Logika Fikih Wakaf, Fee Marketing, dan Asuransi Wakaf

Klaten-2016. Wakaf. Waqaf. | Kalau belajar tajwid tuh ada waqaf artinya BERHENTI. Tahan. Tahan. Berhenti. Dalam definisi semantik ya intinya, WAKAF adalah MEMBUAT harta yang diwakafkan tetap BERHENTI. Tetap ada. Tetap ditahan. Tetap LESTARI.

Oleh sebab ini dan oleh sebab itu, maka LAZIMnya wakaf adalah tanah, bangunan, dan/atau barang lain yang secara mudah bisa tetap DITAHAN kelestariannya. Wakaf itu syaratnya atau logikanya ya barang yang diwakafkan itu ada terus terusan. Keberadaannya ada terus.

Nah.. Sekarang ada wakaf tunai dan juga wakaf produktif. Wakaf tunai untuk produktif.

Misalnya wakaf senilai 100 milyar maka dana senilai 100 milyar ini harus ada terus menerus baik berupa rupiah maupun sudah berupa aset. Misalnya beli bangunan atau bikin masjid atau fasilitas lain. Harta senilai 100 milyar ini HARUS ADA TERUS TERUSAN.

Tapi mari cermati..

Wakaf produktif ini sangat riskan tidak logis dalam arti tidak sesuai syariah JIKA dan JIKA akad pengelolaannya menggunakan skema bisnis. Karena dalam bisnis ada risiko rugi sehingga ada risiko dana BERKURANG. Dana wakaf kok berkurang maka bukan lagi wakaf.

Justru yang paling tepat untuk wakaf tunai dalam bentuk dana ini adalah menggunakan akad PINJAMAN. Pinjaman bukan akad bisnis. Pinjam 100 ya balikin 100. Wajib balikin 100.

Kalau bisnis kan misal dana 100 milyar dipake bisnis kan logika nya dana ini NANTI bisa jadi 190 milyar, bisa habis. Ini riskan jika dana dialokasikan pada AKAD BISNIS.

Its oke dana ini bisa dimaksimalkan dalam keperluan produktif tapi tetap akadnya adalah PINJAMAN. Memberikan pinjaman 100 bayar 100 bagi misalnya pengusaha start up.

Meski pengusaha ini menjalankan bisnis dimana akan ada risiko untung rugi, tapi pengusaha ini WAJIB mengembalikan pinjamannya SENILAI. Jadi bisa dilogika jika akadnya pinjaaman maka dana ini akan tetap.LESTARI.

TENTANG FEE atau Komisi Marketing

Lah kok ada fee?? | Bisa masuk akal, bisa juga tidak.

Akan masuk akal jika FEE diambilkan BUKAN DARI DANA WAKAF. Namun misalnya nih, wakaf produktif sudah berjalan misalnya 1 tahun. Dalam 1 tahun misalnya ada dana wakaf 100 milyar. Dibelikan gedung atau mall. Mall ini lalu disewakan. Hasil sewa gedung tadi kan bisa jadi sumber fee yang logis/masuk akal.

Jadi misal pencari dana wakaf diberikam fee 30% x Dana wakaf TETAPI fee dari pos laba operasional dana wakaf yang telah lalu misalnya dari sewa mall, INI LOGIS. Karena sumber fee bukan dari dana wakaf saat itu tapi dari laba operasional bisnis yang dijalankan atas keberadaan BENDA WAKAF, meski itungannya ya 30% dari dana wakaf saat itu. Ini oke. Masuk akal logika fikih wakaf.



Yang tidak logis adalah ketika sebelumnya tidak ada hasil apa-apa tapi tiba-tiba kita dapat fee sebesar 30% yang dananya itu DIPOTONG dari dana wakaf saat itu, naaah ini nggak logis dan tidak boleh. Dana untuk wakaf kok berkurang.

Perhatikan !

Dana wakaf harus tetap ada minimal senilai, Jangan dipotong jadi hak panitia. Ini bukan ZAKAT yang ada bagian AMIL misal sebesar 30%. Ini WAKAF yang lugas bahwa dana atau harta wakaf ini harus lestari.

Kalau pertama kali dana wakaf terkumpul, belikan aset yang bisa dikaryakan, disewakan, dan sejenisnya yang menghasilkan uang dalam skema dagang agar nanti ada laba yang sebagian bisa buat biaya operasional termasuk fee para marketing.

Begitu seterusnya akan terakumulasi jadi labanya banyak, semua bahagia dan DANA WAKAF TETAP LESTARI.

ASURANSI WAKAF

Apapun jenis asuransinya, Skemanya harus Asuransi Syariah. Kalau skema asuransinya syariah maka akadnya saling hibah.. saling menghadiahi.. saling nyumbang. | Ada PREMI yang harus dibayarkan.



Premi itu di luar dana wakaf. Atau dikenakan dan dialokasikan dari dana luar wakaf namun pembayarannya bersamaan dengan dana wakaf. Misal bayar rutin 1.000.000 yang 900.000 dana wakaf, yang 100.000 adalah premi.

Asal diakadkan maka clear. Boleh

Dan namanya juga asuransi, Kalau ada case kan bisa klaim. Dapet dana SUMBANGAN deh.

Asalkan tetap perhatikan bahwa dana premi itu bukan dana wakaf. Jangan ambil dari dana wakaf. Dipisah saja pos-nya dan ini boleh-boleh saja.

*Dikutip dari tulisan Ahmad Ifham (Amana Sharia Consulting) dengan sedikit penyesuaian.

Didit Aby
Allianz Life Indonesia
085 6959 13013

Masukkan email untuk berlangganan:

0 Response to "Logika Fikih Wakaf, Fee Marketing, dan Asuransi Wakaf"

Posting Komentar