Halalnya Gharar Pada Asuransi

Pasti bebas RIBA karena Akad asuransi syariah adalah hibah atau Nyumbang. Tidak ada “sumbangan” yang bisa dikategorikan sebagai RIBA. Siapa yang menyumbang? Asuransi Syariah adalah saling nyumbang antar sesama peserta. Cara ini lazim dilakukan masyarakat di kampung-kampung untuk membantu salah satu warga mereka yang terkena musibah. Kalau tidak nyumbang, berarti itu bukan asuransi syariah. | Prinsip tersebut sesuai dengan Fatwa DSN MUI No. 21 tahun 2001.
Jika ada akad selain nyumbang, berarti itu bukan asuransi syariah. Mungkin itu investasi atau lainnya.


Oleh karena akad asuransi syariah adalah saling nyumbang, maka yang terjadi pada Asuransi Syariah bukanlah jual beli risiko, namun saling nyumbang antar peserta.

Kalau akadnya Jual Beli risiko, seperti pada asuransi konvensional, maka di sinilah terlarangnya Gharar (ketidak jelasan) dan Maisir (perjudian), yakni pada jual beli yang objeknya tidak jelas. Jual beli risiko, Jual beli Gharar, lalu terjadilah maisir. Maisirnya terjadi karena ketika ada yang dapet dana manfaat karena case tertentu, maka ada pihak yang dananya diambil oleh yang dapet. Maisir ini jadi terlarang karena preminya bukan merupakan sumbangan, tapi jual beli risiko.

Gharar Boleh

Oleh karena akad asuransi syariah adalah nyumbang, maka Gharar-nya menjadi boleh. Gharar dalam transaksi di luar transaksi mu'awadhah (non-mu'awadhah) adalah boleh. Mu'awadhah itu transaksinya berskema ada imbalan. Non-mu'awadhah-nya ya nyumbang tadi.

Kapan Gharar?

Kapan Gharar terjadi? | Gharar pada asuransi syariah terjadi pada saat peserta asuransi syariah menyetorkan dana sumbangan, maka terjadilah akad sumbangan. Itulah saat terjadinya Gharar.

Sumbangan itu diberikan kepada siapa persisnya orangnya? | Ya jelas tidak bisa langsung ketahuan siapa penerima pastinya atas dana sumbangan tersebut, nunggu ada case yang terjadi pada peserta.. Case terjadi sesuai peruntukan premi. Bisa asuransi jiwa, atau asuransi umum.

Kapan kepastian terjadinya case? | Ya tidak tahu pasti kapannya. Case bisa terjadi sewaktu-waktu, setelah akad hibahnya terjadi. Bukan pada saat akad hibah dinyatakan dalam setoran premi hibahnya.

BACA PULA

Cara Mudah Memahami Asuransi Syariah 
Perbandingan BPJS Dengan Produk Allianz 

Maisir Boleh

Oleh karena ada Gharar dalam Asuransi Syariah, maka terjadi pula maisir. Maisir terjadi pada saat ada peserta asuransi syariah kena case, maka ia akan memperoleh sumbangan. Dana sumbangan itu berasal dari orang lain sesama peserta asuransi yang tidak kena case. Inilah skema maisir. Namun bukan maisir yang terlarang karena akadnya hibah (nyumbang), bukan akad mu'awadhah (berimbal jasa).

Dengan demikian, Gharar dan Maisir di Asuransi Syariah menjadi halal karena akadnya adalah akad hibah.

Produk non-Hibah

Ketika ada TAMBAHAN PRODUK berakad investasi pada asuransi syariah, maka penentuan kepastian hasilnya malah HARUS GHARAR. Kalau nominal hasil sudah dipastikan sejak awal, malah melanggar syariat Islam. Beda dengan produk berbasis jual beli, JIKA ADA, maka HARUS TIDAK GHARAR.

Konven Jadi Syariah

Kalau asuransi konven mau jadi syariah ya sangat sederhana saja, gantilah akadnya jadi akad hibah. Jika berani. Bagus.

Simpulan

Saya ulang, Gharar dan Maisir di Asuransi Syariah adalah halal karena akadnya adalah akad hibah. Pada penentuan nominal hasil investasi juga harus Gharar. Yang haram adalah Jual Beli Gharar, jika ada.

WaLlaahu a'lam

Didit Aby
Asuransi allianz Syariah
085 6959 13013
rahmataini@gmail.com

Masukkan email untuk berlangganan:

0 Response to "Halalnya Gharar Pada Asuransi "

Posting Komentar